Skip to main content

Memperbaiki Thumbnails Foto yang Rusak di Laptop AMD Windows 8.1


Beberapa hari yang lalu, usai meng-install ulang Windows 8.1 di notebook ASUS X550ZE yang biasa saya gunakan, saya menemukan masalah ketika membuka file-file foto. Entah kenapa, thumbnail preview yang biasanya muncul di foto-foto tersebut sebagian ada yang hilang. Ada beberapa foto yang hanya berwarna hitam sehingga saya kira filenya yang rusak. Akan tetapi, file itu masih bisa dibuka dengan aplikasi penampil foto, dan tetap kelihatan normal.

Setelah gugling sebentar, saya simpulkan masalahnya ada di driver AMD Catalyst.
Solusinya adalah kembali menggunakan penampil thumbnails bawaan Windows 8.1. Untuk itu, kita harus menonaktifkan penampil thumbnails dari AMD Catalyst.

Caranya? Saya kopas dari forum Tech Power Up:


The workaround is "Rename amf-wic-jpeg-decoder32.dll and amf-wic-jpeg-decoder64.dll (directory: C:\Program Files\Common Files\ATI Technologies\Multimedia)

Simply cut and paste / search for these two files on your PC
amf-wic-jpeg-decoder32.dll
amf-wic-jpeg-decoder64.dll 

Ya, tinggal me-rename atau menghapus dua jpeg decoder yang ada di folder tersebut.

Setelah itu, saya coba menghapus thumbnail cache dengan aplikasi CCleaner, dan membuka kembali folder foto yang sebelumnya terlihat "rusak".

Alhamdulillah, thumbnails yang muncul sudah kembali normal tanpa ada yang ditampilkan berwarna hitam.

Saya belum mencoba update terbaru AMD Catalyst (16.12.2), tetapi semoga masalah ini sudah teratasi. Nanti setelah apdet deh, saya coba lagi.

Comments

Popular posts from this blog

New Theme: Notable

Iseng-iseng saya coba mengganti theme di blog ini.

Lumayan lama ternyata saya nggak mengecek pilihan tema di layanan Blogger, dan ternyata ada beberapa varian paket tema baru yang bisa diterapkan secara instan di blog kita.


Saya yang memang malas ribet kalau harus menginstal dan mengelola tema pihak ketiga akhirnya memilih tema standar Notable.

Ternyata theme baru ini enak, ringan di tarikan, pun sangat mengutamakan keterbacaan. Font cukup besar, kolom cukup lebar. Variasi warna latar dan huruf juga lumayan banyak.

Ya sudah, mari kita berdayakan tema baru ini, semoga semangat ngeblog-nya juga ikut berdaya... 😀

Pengalaman Mengikuti Tes EPT di ULM

Kemarin siang saya mengikuti ujian English Proficiency Test (EPT), semacam tes untuk memprediksi skor TOEFL. Tidak ada kepentingan apa-apa sebenarnya, hanya saja, beberapa bulan lalu ada Mami diajak temannya yang mau ikut tes ini sebagai syarat melamar kerja. Nah, Mami kemudian mendaftarkan saya ikut tes di gelombang berikutnya. Sekian lama tidak dipanggil, akhirnya Rabu lalu pemberitahuan lewat SMS datang. Saya disuruh berhadir Jumat siang tadi jam 1.30.

Revisiting the Shrine

Lama tidak ke mari. Terlalu lama, malahan.

Usai terakhir posting bulan Maret lalu, ternyata terlalu banyak kesibukan dan kemalasan yang membuat blog ini tak terurus.

Sebenarnya berbagai kegiatan saya tahun ini sangat seru kalau di-blog-kan. Saya sempat ke Jogja hingga dua kali, menangani UNBK plus kena cacar, menjalani pelatihan di Pelaihari, melaksanakan PSB dengan sistem online dan zonasi, ditambah berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas guru, hingga yang terakhir, ke Marabahan untuk mengisi diklat persiapan UN 2018.

Sayangnya ya itu, banyak kegiatan, ditambah malas update dan keasikan main game dengan hape baru, saya jadi lupa sama sekali mengurus blog ini.

Akhirnya hari ini tadi saya coba mengunduh aplikasi Blogger untuk Android. Siapa tahu lah bisa ada mood untuk menulis lewat hape.

Semoga postingan kali ini memicu saya untuk bisa lebih rajin lagi lah menulis.

Sekali lagi, semoga...

Credits: 
1. Photo “Black Pen With Brown Leather Cover Note Book” courtesy of nuttakit (FreeDigi…

Retrogaming

Video games buat saya adalah sarana rekreasi yang menyenangkan, murah, sekaligus tak terlalu melelahkan. Ketika kuliah di Jogja, kalau sudah suntuk main game, barulah saya mengerjakan tugas kuliah, hehehe.

Sejak kecil saya sudah suka main game, terutama yang kala itu populer: game watch, atau yang lebih akrab kami panggil gembot. Tiap istirahat atau pulang sekolah ramailah kami nongkrong di paman penyewaan gembot ini. Game-nya diikat pakai tali, dan jika waktu bermain dianggap sudah habis si paman tinggal menarik talinya.

Tentang Rencana Main Final Fantasy

Rencana ya tinggal rencana.
Awal tahun lalu saya sempat bilang kepingin main seri Final Fantasy lagi dari seri pertama. Nostalgia, nuansa retro, dan gameplay yang menantang membuat saya tertarik memainkan seri RPG legendaris ini dari awal.
Sayangnya, semua tak sesuai ekspektasi awal.
Saya memang akhirnya menamatkan FF 1 di hape, namun tak sanggup bertahan lama memainkan FF 2. Seri kedua ini memang terkenal sangat sulit, salah satunya karena sistem leveling-nya yang tidak biasa.
Saya coba lompat ke FF 3, yang setahun sebelumnya sudah pernah saya coba. Masalahnya, sistem job yang diterapkan di game ini melelahkan sekali. Ada puluhan jenis job dengan spesifikasi yang berbeda-beda, sementara karakter-nya cuma empat orang. Akibatnya waktu lebih banyak dihabiskan untuk grinding level job yang berganti-ganti. Kembali saya cuma sanggup sampai mendekati menara bos utama, untuk kemudian bosan sendiri.
Lalu ada lagi yang mengalihkan perhatian: Final Fantasy Awakening.


Game yang dirilis pertenga…