Skip to main content

Final Fantasy I & II: Dawn of Souls (GBA)




2017 ini genap 30 tahun sudah usia waralaba RPG asal Jepang, Final Fantasy. Sejak seri pertama game besutan Square ini dirilis, hingga kini sudah 15 seri diproduksi, ditambah beberapa game spin-off dan puluhan remake di berbagai platform konsol.



Salah satu remake tersebut adalah Dawn of Souls, yang dirilis untuk Game Boy Advance pada 2004 silam. DoS adalah bundel dari game FF 1 dan 2 yang dipermak habis, khususnya tampilan grafik dan gameplay-nya, tentunya agar lebih menarik untuk dimainkan oleh generasi yang lebih muda. Meski demikian, jalan ceritanya masih sama seperti versi aselinya, dan musiknya juga tetap dipertahankan untuk menjaga nuansa nostalgia.

GBA adalah salah satu perangkat game handheld terpopuler yang pernah diluncurkan Nintendo. Saat ini tentunya sudah tak diproduksi lagi, seiring diluncurkannya Nintendo DS. Agar bisa memainkan ROM GBA di perangkat Android, saya memanfaatkan emulator GameBoid. Sejauh ini di Xiaomi Redmi Note 3 saya, emulator ini berjalan cukup lancar dan tidak menemui masalah berarti.

Dawn of Souls sendiri adalah hasil dari sekian kali remake dari Final Fantasy I dan II, dari NES, WonderSwan, PlayStation, hingga GBA. Dua game ini kebetulan (sayangnya) tidak dibuat versi SNES-nya. Padahal, seandainya ada, saya tentu lebih memilih memainkan versi SNES saja.

Untunglah, Dawn of Souls dibuat mirip seperti tiga seri FF era SNES: IV, V, dan VI. Desain sprite karakter, desain dungeon kota, peta, dan nuansa medieval-nya terasa mirip sekali. Dari segi grafik, tentu ini perbaikan dari seri aseli di NES yang tampilannya sangat, nganu, primitif... Meski begitu, kalau dibandingkan dengan game zaman sekarang, apalagi dengan FF XV, yaa game ini jadi terlihat jadul sekali.

Tapi tak mengapa lah, karena rencananya saya ingin memainkan game FF berurutan dari seri pertama. Yang penting adalah jalan cerita dan gameplay-nya sudah diakui bagus dan menantang.

Di postingan berikutnya rencananya saya akan mengulas masing-masing game, FF I dan II secara terpisah, tentunya setelah selesai menamatkan keduanya.



Credits: 
1. Dawn of Souls Box Art taken from The Gaming Wiki.

Comments

Popular posts from this blog

New Theme: Notable

Iseng-iseng saya coba mengganti theme di blog ini.

Lumayan lama ternyata saya nggak mengecek pilihan tema di layanan Blogger, dan ternyata ada beberapa varian paket tema baru yang bisa diterapkan secara instan di blog kita.


Saya yang memang malas ribet kalau harus menginstal dan mengelola tema pihak ketiga akhirnya memilih tema standar Notable.

Ternyata theme baru ini enak, ringan di tarikan, pun sangat mengutamakan keterbacaan. Font cukup besar, kolom cukup lebar. Variasi warna latar dan huruf juga lumayan banyak.

Ya sudah, mari kita berdayakan tema baru ini, semoga semangat ngeblog-nya juga ikut berdaya... 😀

Pengalaman Mengikuti Tes EPT di ULM

Kemarin siang saya mengikuti ujian English Proficiency Test (EPT), semacam tes untuk memprediksi skor TOEFL. Tidak ada kepentingan apa-apa sebenarnya, hanya saja, beberapa bulan lalu ada Mami diajak temannya yang mau ikut tes ini sebagai syarat melamar kerja. Nah, Mami kemudian mendaftarkan saya ikut tes di gelombang berikutnya. Sekian lama tidak dipanggil, akhirnya Rabu lalu pemberitahuan lewat SMS datang. Saya disuruh berhadir Jumat siang tadi jam 1.30.

Revisiting the Shrine

Lama tidak ke mari. Terlalu lama, malahan.

Usai terakhir posting bulan Maret lalu, ternyata terlalu banyak kesibukan dan kemalasan yang membuat blog ini tak terurus.

Sebenarnya berbagai kegiatan saya tahun ini sangat seru kalau di-blog-kan. Saya sempat ke Jogja hingga dua kali, menangani UNBK plus kena cacar, menjalani pelatihan di Pelaihari, melaksanakan PSB dengan sistem online dan zonasi, ditambah berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas guru, hingga yang terakhir, ke Marabahan untuk mengisi diklat persiapan UN 2018.

Sayangnya ya itu, banyak kegiatan, ditambah malas update dan keasikan main game dengan hape baru, saya jadi lupa sama sekali mengurus blog ini.

Akhirnya hari ini tadi saya coba mengunduh aplikasi Blogger untuk Android. Siapa tahu lah bisa ada mood untuk menulis lewat hape.

Semoga postingan kali ini memicu saya untuk bisa lebih rajin lagi lah menulis.

Sekali lagi, semoga...

Credits: 
1. Photo “Black Pen With Brown Leather Cover Note Book” courtesy of nuttakit (FreeDigi…

Retrogaming

Video games buat saya adalah sarana rekreasi yang menyenangkan, murah, sekaligus tak terlalu melelahkan. Ketika kuliah di Jogja, kalau sudah suntuk main game, barulah saya mengerjakan tugas kuliah, hehehe.

Sejak kecil saya sudah suka main game, terutama yang kala itu populer: game watch, atau yang lebih akrab kami panggil gembot. Tiap istirahat atau pulang sekolah ramailah kami nongkrong di paman penyewaan gembot ini. Game-nya diikat pakai tali, dan jika waktu bermain dianggap sudah habis si paman tinggal menarik talinya.

Tentang Rencana Main Final Fantasy

Rencana ya tinggal rencana.
Awal tahun lalu saya sempat bilang kepingin main seri Final Fantasy lagi dari seri pertama. Nostalgia, nuansa retro, dan gameplay yang menantang membuat saya tertarik memainkan seri RPG legendaris ini dari awal.
Sayangnya, semua tak sesuai ekspektasi awal.
Saya memang akhirnya menamatkan FF 1 di hape, namun tak sanggup bertahan lama memainkan FF 2. Seri kedua ini memang terkenal sangat sulit, salah satunya karena sistem leveling-nya yang tidak biasa.
Saya coba lompat ke FF 3, yang setahun sebelumnya sudah pernah saya coba. Masalahnya, sistem job yang diterapkan di game ini melelahkan sekali. Ada puluhan jenis job dengan spesifikasi yang berbeda-beda, sementara karakter-nya cuma empat orang. Akibatnya waktu lebih banyak dihabiskan untuk grinding level job yang berganti-ganti. Kembali saya cuma sanggup sampai mendekati menara bos utama, untuk kemudian bosan sendiri.
Lalu ada lagi yang mengalihkan perhatian: Final Fantasy Awakening.


Game yang dirilis pertenga…