Skip to main content

Retrogaming


Video games buat saya adalah sarana rekreasi yang menyenangkan, murah, sekaligus tak terlalu melelahkan. Ketika kuliah di Jogja, kalau sudah suntuk main game, barulah saya mengerjakan tugas kuliah, hehehe.

Sejak kecil saya sudah suka main game, terutama yang kala itu populer: game watch, atau yang lebih akrab kami panggil gembot. Tiap istirahat atau pulang sekolah ramailah kami nongkrong di paman penyewaan gembot ini. Game-nya diikat pakai tali, dan jika waktu bermain dianggap sudah habis si paman tinggal menarik talinya.



Usia SMP-SMA barulah saya mulai mengenal SNES, Nintendo 64, dan Sony PlayStation, yang kadang dibawa oleh teman ke rumah saya. Dari sini saya mengenal beberapa game legendaris seperti Super Mario, Donkey Kong, dan Winning Eleven.

Ketika kuliah dan punya PC sendiri, hobi main game terus berjalan. Sayangnya, game-game PC kian lama kian canggih, dan minta spek komputer yang makin tinggi. Komputer saya yang begitu-begitu aja speknya ya nggak kuat kalau dipaksa memainkan game berat-berat.

Solusinya adalah Emulator. Dengan aplikasi-aplikasi tertentu, saya bisa memainkan game-game jadul yang dulu ngetop di era konsol. Berhubung game-nya juga jadul, PC saya jadi tak terlalu terbebani.

Nah, beberapa hari ini saya kok jadi terkenang game-game jadul ini lagi. Meskipun PC dan laptop saya sekarang sebenarnya bisa dibilang mencukupi saja buat main game zaman sekarang, saya kok masih lebih suka memainkan game jadul. Mungkin faktor usia mempengaruhi.

Ada beberapa emulator yang saya download kembali:
1. ZSNES
Emulator favorit saya sejak dulu, khusus untuk memainkan game-game Super Nintendo. Keunggulan game-game SNES ini adalah jumlahnya banyak, ukurannya tak terlalu gede, dan nostalgia-nya itu.

2. ePSXe
Emulator untuk Sony PlayStation. Kebetulan sampai sekarang saya masih menyimpan ISO lama Suikoden 1 dan 2.

3. Project 64
Mungkin sejauh ini, Project 64 ini adalah emulator Nintendo Ultra 64 terbaik. Ada beberapa judul game yang saya suka seperti Banjo Kazooie, Donkey Kong 64, dan tentunya Super Mario 64.

4. GameBoid
Untuk perangkat Android, ada beberapa emulator yang juga telah dikembangkan. Hanya saja, saya memilih memainkan Game Boy Advance, terutama karena ada remake Final Fantasy I dan II di sana.

Ya, untuk saat ini, rencananya saya akan coba memainkan seri Final Fantasy mulai edisi pertama. Kebetulan tahun ini genap tiga dekade sejak game pertama diluncurkan untuk konsol NES. Jadilah, saya menghapus CoC dan beberapa game lain di hape saya, demi berkonsentrasi memainkan game ini. Semoga bisa sukses menamatkannya, karena menurut rumor tingkat kesulitannya agak lumayan.


Credits: 
1. Photo “Games” courtesy of Pazham (FreeDigitalPhotos.net)

Comments

Popular posts from this blog

New Theme: Notable

Iseng-iseng saya coba mengganti theme di blog ini.

Lumayan lama ternyata saya nggak mengecek pilihan tema di layanan Blogger, dan ternyata ada beberapa varian paket tema baru yang bisa diterapkan secara instan di blog kita.


Saya yang memang malas ribet kalau harus menginstal dan mengelola tema pihak ketiga akhirnya memilih tema standar Notable.

Ternyata theme baru ini enak, ringan di tarikan, pun sangat mengutamakan keterbacaan. Font cukup besar, kolom cukup lebar. Variasi warna latar dan huruf juga lumayan banyak.

Ya sudah, mari kita berdayakan tema baru ini, semoga semangat ngeblog-nya juga ikut berdaya... 😀

Pengalaman Mengikuti Tes EPT di ULM

Kemarin siang saya mengikuti ujian English Proficiency Test (EPT), semacam tes untuk memprediksi skor TOEFL. Tidak ada kepentingan apa-apa sebenarnya, hanya saja, beberapa bulan lalu ada Mami diajak temannya yang mau ikut tes ini sebagai syarat melamar kerja. Nah, Mami kemudian mendaftarkan saya ikut tes di gelombang berikutnya. Sekian lama tidak dipanggil, akhirnya Rabu lalu pemberitahuan lewat SMS datang. Saya disuruh berhadir Jumat siang tadi jam 1.30.

Revisiting the Shrine

Lama tidak ke mari. Terlalu lama, malahan.

Usai terakhir posting bulan Maret lalu, ternyata terlalu banyak kesibukan dan kemalasan yang membuat blog ini tak terurus.

Sebenarnya berbagai kegiatan saya tahun ini sangat seru kalau di-blog-kan. Saya sempat ke Jogja hingga dua kali, menangani UNBK plus kena cacar, menjalani pelatihan di Pelaihari, melaksanakan PSB dengan sistem online dan zonasi, ditambah berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas guru, hingga yang terakhir, ke Marabahan untuk mengisi diklat persiapan UN 2018.

Sayangnya ya itu, banyak kegiatan, ditambah malas update dan keasikan main game dengan hape baru, saya jadi lupa sama sekali mengurus blog ini.

Akhirnya hari ini tadi saya coba mengunduh aplikasi Blogger untuk Android. Siapa tahu lah bisa ada mood untuk menulis lewat hape.

Semoga postingan kali ini memicu saya untuk bisa lebih rajin lagi lah menulis.

Sekali lagi, semoga...

Credits: 
1. Photo “Black Pen With Brown Leather Cover Note Book” courtesy of nuttakit (FreeDigi…

Tentang Rencana Main Final Fantasy

Rencana ya tinggal rencana.
Awal tahun lalu saya sempat bilang kepingin main seri Final Fantasy lagi dari seri pertama. Nostalgia, nuansa retro, dan gameplay yang menantang membuat saya tertarik memainkan seri RPG legendaris ini dari awal.
Sayangnya, semua tak sesuai ekspektasi awal.
Saya memang akhirnya menamatkan FF 1 di hape, namun tak sanggup bertahan lama memainkan FF 2. Seri kedua ini memang terkenal sangat sulit, salah satunya karena sistem leveling-nya yang tidak biasa.
Saya coba lompat ke FF 3, yang setahun sebelumnya sudah pernah saya coba. Masalahnya, sistem job yang diterapkan di game ini melelahkan sekali. Ada puluhan jenis job dengan spesifikasi yang berbeda-beda, sementara karakter-nya cuma empat orang. Akibatnya waktu lebih banyak dihabiskan untuk grinding level job yang berganti-ganti. Kembali saya cuma sanggup sampai mendekati menara bos utama, untuk kemudian bosan sendiri.
Lalu ada lagi yang mengalihkan perhatian: Final Fantasy Awakening.


Game yang dirilis pertenga…