Wednesday, 28 December 2016

Rogue One



Rabu 21 Desember lalu saya nonton Rogue One: A Star Wars Story di XXI Duta Mall Banjarmasin. Tadinya janjian dengan beberapa teman, tapi berhubung masing-masing banyak alasan kesibukan, akhirnya saya nonton sendirian. Bukan masalah juga sebenarnya, karena sejak awal saya memang niat nonton film ini sendiri saja, biar lebih menghayati.

Sengaja juga saya ambil waktu nonton sebelum bagi rapor, karena setelah masuk liburan pastilah antrenya panjang sekali. Dan benar saja, hampir separuh kursi di studio 1 saat itu kosong. Ada untungnya juga ternyata menonton siang-siang saat hari kerja.



Filmnya sendiri menurut saya sangat bagus. Sebagai fans Star Wars, sepertinya saya tidak bisa memberi penilaian objektif, karena film manapun asal terkait Star Wars pasti saya anggap bagus.

Etapi serius, filmnya bagus dan aksi laganya seru. Latarnya menceritakan apa yang terjadi sebelum peristiwa Star Wars Episode IV, ketika Princess Leia meng-input rancangan Death Star ke R2-D2 dan mengirimnya ke Tatooine.

Dari film ini kita jadi tahu siapa saja rebel spies yang telah berhasil mencuri rancangan stasiun luar angkasa paling sadis kala itu. Bagaimana pula proses hingga arsip paling rahasia ini bisa bocor dari repositori data di planet Scarif hingga sampai ke Luke Skywalker dan markas Alliance.
Pertanyaan penting lainnya adalah, bagaimana bisa stasiun plus senjata pemusnah planet se-gigantik Death Star bisa punya kelemahan begitu rupa sehingga Luke di akhir Star Wars IV bisa dengan mudah (dengan bantuan Force, tentunya), menghancurkannya.

Selama film ini proses pembangunan Death Star terus berjalan seiring ekspansi yang dilakukan Galactic Empire. Sementara itu, Rebel Alliance terus berkonsolidasi di bawah tanah, mengumpulkan kekuatan yang tercerai-berai usai runtuhnya Republic.

Dari segi aksi dan efek visual, film ini juga cukup memuaskan. Nuansa kelam selama penjajahan Empire terasa sekali dengan dominasi warna gelap di sana-sini. Pertempuran dan perkelahiannya lebih bersifat fisik, minim teknologi dan tanpa kesaktian ala Force, seiring dibasminya para Jedi usai tragedi Order 66.

Aktor dan aktris yang bermain di film ini juga dipilih bukan sembarang pemeran. Tokoh utama Jyn Erso, diperankan oleh Felicity Jones, yang selain cantik juga terlihat cerdas. Ada pula Mads Mikkelsen yang kharismatik, Donnie Yen yang mewakili optimisme kembalinya Force, dan Forrest Whitaker yang sayangnya menurut saya kurang besar porsi perannya.

Darth Vader masih memegang kendali, dan Grand Moff Tarkin, well, dimunculkan kembali lewat teknologi CGI meski si pemeran telah tiada. Princess Leia muda juga tampil sekelebat, membawa pesan yang jelas: harapan.

Overall, film ini sangat menghibur sekaligus menambal banyak sekali lubang dalam saga Star Wars.
Film ini menjembatani narasi Episode III yang berakhir tragis dan Episode IV di mana harapan baru muncul.

Tahun depan, semoga Episode VIII bisa jauh lebih "panas" lagi.


Favorite Character: K-2SO
Favorite Quote: "I've got a bad feeling abo..." - K
Favorite Element: Michael Giacchino's awesome scores along the movie.
Verdict: 8.5 / 10




Credits: 
1. Rogue One Poster taken from JoBlo.com

No comments:

Post a Comment